Thendri Supriatno, Gunakan CSR Untuk Sustainable Business

| 04/09/2018 - 07:54

Tiap kali berangkat ke masjid, orang tua kerap memberinya uang untuk ditaruh di tempat ibadah tersebut. Lebih 40 tahun berselang, pengalaman itu masih membekas di benak Thendri Supriatno. Kebiasaan itu dianggapnya sebagai edukasi untuk berbagi, seberapa pun kecilnya. Itu pula yang ikut mewarnai perjalanan hidup lelaki kelahiran Cirebon, 1 November 1956 ini. Meski telah bekerja di perusahaan mapan, ayah tiga anak ini aktif melakukan aktivitas di bidang Corporate Social Responsibility (CSR).

Konsep inilah yang akhirnya membuat Thendri mengambil keputusan besar. Mundur dari sebuah perusahaan besar yang mapan dan menjadi ketua Corporate Forum for Community Development (CFCD). Inilah lembaga nirlaba yang kini telah merangkul 120-an anggota yang berasal dari berbagai industri seperti pertambangan, rokok, komunikasi. ”Mereka sudah mulai menyadari bahwa CSR bukan sekadar mendapat image yang baik, bukan sekadar menjadi tontonan kedermawanan sosial.” Saat wawancara dengan wartawan Burhanuddin Bella, Thendri mengungkap peran strategis CSR, perkembangannya kini, dan kekuatan di balik konsep yang semula berkembang di Eropa itu.

Bagaimana konsep CSR?

Ada tiga prinsip dasar CSR. Corporate harus bagus dalam tiga bottom line. Dulu kan hanya satu, untuk profit. Sekarang, harus juga bagus dalam bidang sosial dan lingkungan. Awalnya, orang berpikir kegiatan untuk lingkungan dan sosial itu sebagai cost. Corporate lalu menggunakannya sebagai kegiatan bersifat untuk image. Itu tidak salah. Tapi dalam perkembangannya, orang makin menyadari bahwa kegiatan CSR bukan semata-mata itu. Baik kepada masyarakat juga mendukung keuntungan. Dan itu tidak hanya perusahaan besar, tapi juga perusahaan kecil.

Bagaimana dengan keuntungan itu?

Misalnya, perusahaan yang baik kepada masyarakat, tidak memproduksi produk tidak sehat, mereka memproduksi secara bertanggung jawab. Akhirnya orang setia, orang percaya. Kepercayaan itu memengaruhi keuntungan perusahaan. Itulah evolusi CSR. Berikutnya, baik kepada lingkungan. Kesadaran akan kesinambungan lingkungan itu sendiri untuk daya dukung suplai. Jadi, kesinambungan dalam konsep CSR juga kesinambungan dalam corporate itu sendiri. Coba kita lihat. Lingkungan tidak sustainable, suplai tidak sustainable, perusahaan tutup. Artinya apa? Perusahaan itu tidak sustainable. Nah, dalam konsep CSR, corporate harus berpikir bahwa perusahaan itu juga harus sustainable.

Apa yang terjadi kalau perusahaan tidak menerapkan konsep CSR?
Pertama, suplai terganggu. Kedua, tuntutan hukum. Karena dia mencemari lingkungan, kemudian dituntut. Kalau dituntut sama masyarakat atau pemerintah, disuruh membayar penelitian besar, perusahaan itu punya potensi bangkrut. Jadi, tidak sustainable sebagai corporate.

Kenapa Anda begitu peduli dengan CSR?

Saya lihat ini akan memiliki dampak yang sangat luar biasa. Dengan saya gigih melakukan kegiatan ini, kira-kira begitu banyak yang akan mendapatkan manfaat. Pertama, corporate. Mereka harus sadar bahwa dengan melakukan CSR juga good for your business. Pemerintah juga harus sadar. Ada TPST Bojong. Sudah beberapa saat tidak beroperasi, friksi perusahaan dengan masyarakat akhirnya ditutup. Siapa yang dirugikan? Masyarakat dirugikan karena banyak yang dipecat, banyak pengangguran. pemerintah dirugikan karena income melorot. Perusahan rugi. Semua dirugikan. Sadar nggak sih bahwa social cost untuk bisnis di negeri ini begitu tinggi. Belum lagi biaya birokrasi dan sebagainya. Kalau semua cost tadi tinggi, bisa nggak kita berkompetisi dengan produsen dari Cina, Vietnam, India? Kira-kira menarik nggak Indonesia buat investasi? Itulah yang sebetulnya saya ingin promo.

Thendri sangat yakin. CSR adalah solusi. Ketika negeri aman, situasi kondusif, perusahaan bisa beroperasi secara profitable, pemerintah mendukung, rakyatnya kondusif, tidak ada demo, maka, ”Seharusnya ini akan menjadi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.” Namun, lebih dari itu, bakal hadir harmoni. Belum lagi adanya unsur transfer kekayaan dalam CSR. ”Bahkan sifatnya lebih langsung. Perusahaan membelanjakan uangnya untuk masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar sejahtera. Kalau sekian ribu perusahaan yang peduli terhadap masyarakatnya, berapa juta orang yang akan terberdayakan. Pertanyaannya, pemerintah bisa nggak melakukan sendiri?”

Bagaimana dengan Indonesia?

Corporate mulai menyadari bahwa melakukan hal yang baik kepada masyarakat juga memberikan keuntungan. Kesadaran itu mulai ada, tapi memang belum merata. Tidak semua perusahaan mulai menyadarinya. Banyak yang masih melaksanakan itu sebagai kosmetik saja.

Perusahaan apa yang sudah mulai menerapkan?

Umumnya kelas dunia, terutama perusahaan publik, banyak yang menerapkan. Ada yang bagus, ada yang masih baru belajar. Tapi, umumnya perusahaan publik. Untuk beberapa alasan. Pertama, mereka ngeh CSR itu sebagai risk management. Perusahaan yang menerapkan CSR antara lain untuk mengurangi risiko usaha. Karena ingin langgeng usahanya, maka risiko harus dikurangi. Misalnya, risko kerusakan lingungan. Andaikata perusahaan menerapkan dengan cara berpikir risk management saja, itu sudah bagus. Karena dengan begitu, sebetulnya sudah melaksanakan sebagian besar dari konsep manajamen risiko.

Bagaimana dengan peran pemerintah?

Saya tidak mengecam kegiatan untuk mendapatkan image. Tapi, akan lebih bagus lagi kalau negara mulai memikirkan itu. Karena peranan corporate sangat besar. Mereka memiliki kewirusahaan yang tidak dimiliki oleh pemerintah. Mereka memiliki orang-orang terbaik. Rumusannya selalu begitu. Mereka juga memiliki manajemen dan sistem operasional yang baik. Kalau itu berbagi dengan masyarakat sekitar, mungkin dampaknya jauh lebih baik dibandingkan apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah itu sendiri. Niat mencari untung kadang-kadang bisa berdampak yang lebih positif dibandingkan dengan niat untuk menyantuni. Kewajiban pemerintah melayani, tapi dalam banyak hal, yang motivasinya menarik keuntungan dapat melakukan lebih baik, mampu men-deliver lebih baik dibandingkan dengan pemerintah. Itu banyak buktinya.

Menurut Anda, kenapa itu belum bisa dilakukan?

Banyak aspek. Yang pertama pemahaman. Kedua, sistem kultur. Korupsi, ekonomi biaya tinggi, kemudian nepotisme. Itu menghalangi semua. Karena apa? Orang lebih menikmati, ya sudah. Dulu, waktu pemerintah begitu kuatnya, banyak perusahaan berlindung mendapatkan pengamanan dari mereka. Jujur saja, sebagian dari mereka juga menikmati kondisi seperti itu. Karena tidak pusing. Taruhlah 5 juta dolar dibelanjakan untuk pengamanan dan sebagainya, aman. Dan itu bisa berjalan puluhan tahun. Karena adanya nepotisme, adanya kolusi antara corporate dan government. Walaupun setelah reformasi terbukti, tentara tidak bisa mengawasi 24 jam, polisi tidak bisa mengawasi 24 jam. Sebetulnya, hak sepenuhnya perusahaan untuk mendapatkan perlindungan. Dengan melalui sistem perpajakan, dia sudah bayar pajak harus mendapatkan perlindungan. Tapi, itu tidak terjadi di kita. Pemerintah belum mampu melindungi corporate dengan baik. Kalau tidak setoran pungutan, tidak ditanggung keamanannya. Jadi, kenapa CSR belum diperhatikan di Indonesia, karena faktor-faktor tadi. Birokrasi yang berbelit, high cost economy, nepotism.

Saat ini bagaimana Anda memasyarakatkan konsep CSR?

Saya terus menerus, tidak kenal lelah. Lewat Corporate Forum for Community Development (CFCD), banyak industri yang sudah mulai menyadari bahwa CSR bukan sekadar mendapat image yang baik. Memang banyak perusahaan yang masih pada level itu, karenanya saya juga mengedukasi mereka. Kalau corporate, kami mengadakan kursus-kursus. Tapi, masih perlu waktu. Karenanya kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah. Saya kasih seminar di lingkungan Depsos. Karena apa? Kalau saya melihat, sekarang ini sudah tahapan bencana sosial, bukan lagi bencana alam. Demo yang tidak pernah berhenti, mahasiswa, masyarakat yang amuk terus, merusak fasilitas umum. Kita sangat prihatin. Buat saya, ini sudah bencana sosial. Saya bicara ini dengan menterinya (mensos), mari kita tingkatkan kesadaran itu.

Posisinya telah tinggi ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari Medco Energi. Kendati kehidupan nyaman telah diperolehnya selama ini, ternyata daya magnet CSR lebih kuat menarik. ”Hati saya tertarik dalam bidang CSR. Saya berpikir, saya ingin mendapatkan ruang yang lebih luas.” Ada satu hal yang menggelitik peraih gelar master dari Hofstra University, New York, 1988 ini. ”Dengan saya mengepakkan sayap lebih luas, insya Allah, saya lebih bermanfaat buat banyak orang. Apa manfaat yang saya terima secara finansial, ya nggak tahu. Saya jalani saja.” Tampaknya, keputusan yang dia ambil tepat. Namanya mulai dikenal. ”Tidak banyak memang uangnya, tapi saya bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih besar dan kepuasan moral. Saya lebih happy karena saya merasa lebih bermanfaat bagi banyak orang.”

Sejak kapan pemahaman Anda pentingnya CSR?

Sebetulnya, pemahaman itu sudah empat tahun lalu, kemudian saya membentuk CFCD. Kerjanya, saya harus memberikan pemahaman yang sama pada pemerintah, mengedukasi masyarakat, juga kepada para pemuka agama. Saya sudah mengajak kelompok Aa Gym, kelompok Ary Ginandjar, Arifin Ilham. Marilah kita mengedukasi masyarakat lewat visi keagamaan. Karena mereka diedukasi, bukan diprovokasi.

Ada yang menginspirasi Anda?

Saya dari dulu sih, bawaan saja. Bahwa saya peduli terhadap masyarakat, saya risih dengan demo-demo yang begitu. Saya prihatin, negeri ini mau dibawa ke mana? Prihatin nilai-nilai runtuh, kegotongroyongan bubar, Bhinneka Tunggal Ika tidak diperhatikan, Pancasila diabaikan. Cara memperkenalkan Pancasila dulu mungkin kurang pas, tapi jangan benci Pancasilanya dong. Saya takut, negeri ini yang sudah dibangun dengan cucuran air mata dan keringat hanya akan menjadi negara yang compang-camping, apalagi kalau terpecah belah.

Masa kecil Anda bagaimana?

Saya memang dididik dalam lingkungan yang cukup baik keagamaannya. Orang tua saya selalu mengajarkan, kamu harus bekerja keras, harus berdoa, dan tidak pernah menjanjikan sesuatu. Pokoknya kamu harus maju, orang tua memberikan doa. Jadi, saya pede ke mana saja, karena orang tua saya memberikan doa dan mendukung saya. Saya tidak pernah punya ketakutan yang berlebihan, karena saya yakin doa orang tua menyertai. Orang tua juga tidak menuntut. Pokoknya do your best. Yang melekat sampai hari ini di hati saya, ‘Kamu jangan pernah katakan bahwa orang lain lebih jelek, tapi tunjukkan bahwa kamu lebih baik. Nanti kamu tidak akan pernah melakukan sesuatu yang baik karena sibuk mengatakan orang lain jelek’.

Dengan pesan seperti itu, apakah Anda selalu the best?

Pengertian the best itu jangan diukur dalam pengertian artifisial. Kalau ditanya apakah saya selalu ranking di sekolah, tidak selamanya. Tapi bahwa saya selalu mendapatkan sekolah yang terbaik, yes. Saya dari SMA dapat beasiswa, kuliah di IPB. Setelah itu saya bekerja di sebuah perusahaan, saya dapat beasiswa lagi sekolah di Amerika. Dalam kehidupan saya, kayaknya Tuhan memberikan kemudahan. Apa kemudian tanggung jawab intelektual saya? Belum lagi tanggung jawab moral, tanggung jawab keagamaan. Sudahlah, saya tidak berani mengklaim banyak-banyak. Minimal tanggung jawab intelektual saya. Saya punya knowledge, saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak dibandingkan rata-rata anak sekampung saya di Cirebon. Boleh nggak saya manfaatkan untuk kebaikan banyak orang. Bukan cuma boleh, rasa-rasanya digugat kewajiban moral saya. Kemudian, saya bisa mengedukasi banyak orang. Banyak orang mau mendengarkan. Bukankah itu sebuah anugerah juga? Berapa sih kekuatan keuangan saya andaikata saya harus beramal dari segi uang? Tidak banyak. Tapi, dengan saya menggerakkan begitu banyak orang, minimal begitu banyak masyarakat mendapatkan manfaat. Masak Tuhan tidak kasihan sih sama saya, andaikata saya mati? Dari banyak dana yang dikucurkan corporate ke masyarakat, masak sih Tuhan tidak kasih accountingnya 0,000 sekian buat saya kalau mati. Simpel saja.

(Dipublikasikan pertama kali oleh Koran Republika, Minggu, 04 Juni 2006)

Tags: , ,